"Tuhan, saat ini aku datang dengan hati yang terbuka. Singkirkan segala kebisingan dunia dan ego dalam diriku. Berbicaralah, ya Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengarkan. Jadikan Firman-Mu kekuatan dalam kelemahanku dan kompas dalam kebingunganku. Amin."
Kadang Tuhan berbicara melalui pintu yang tertutup atau kesempatan yang terbuka secara ajaib.
Ini adalah dasar utama. Membaca dan merenungkan ayat-ayat suci adalah cara paling langsung untuk mendengar pikiran Tuhan.
Mendengar dalam konteks iman selalu berkaitan dengan melakukan. Jika kita berkata "aku mau mendengar," itu berarti kita juga berkata "aku siap melakukan." 3. Cara Tuhan Berbicara
Tidak mudah goyah oleh badai persoalan karena hidupnya dibangun di atas batu karang yang kokoh.
Mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya dan siap untuk dikoreksi.
Mendengar Firman Tuhan berarti membuka diri untuk dididik, ditegur, dan diarahkan. Dalam tradisi iman, Firman adalah "pelita bagi kaki dan terang bagi jalan." Tanpa mendengar suara-Nya, manusia cenderung berjalan menurut hikmatnya sendiri yang terbatas dan sering kali menyesatkan. Kerinduan ini muncul dari kesadaran bahwa "manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap kata yang keluar dari mulut Allah." 2. Sikap Hati yang Diperlukan